Nama               : Atrina Dwi Putri

NRP                : I34100035

Laskar              : 2

            Cerita inspirasi ini berasal dari pengalaman pribadi saya beberapa bulan yang lalu, tepatnya pada saat kelas XII SMA, yaitu pada masa-masa ujian nasional SMA.  Beberapa minggu menjelang ujian nasional, kantin sekolah mendadak sepi. Itu semua disebabkan karena anak kelas XII lebih banyak menghabiskan waktu istirahatnya untuk belajar dibandingkan untuk jajan dan bermain. Ya tetapi tetap saja masih ada beberapa murid yang santai dan bermalas-malasan walaupun ujian sudah di depan mata. Begitu juga dengan saya, setiap harinya saya selalu belajar dengan giat dan mengurangi waktu untuk bermain, menonton tv, dan jalan-jalan. Berbagai cara telah saya lakukan mulai dari belajar sendiri, tidak pernah membolos pada saat pengayaan bahkan rajin mengikuti bimbel dan try out beberapa bulan sebelum ujian hanya demi satu kata yaitu ‘LULUS’.

            Pagi hari yang cerah di tanggal 22 maret 2010, banyak siswa-siswi yang sibuk mencari kunci jawaban, baik itu melalui sms ataupun dari mulut ke mulut. Tetapi saya hanya berdiam diri dan mendengarkan amanat dari kepala sekolah. Jam 8 ujian pun dimulai, banyak sekali yang sibuk membuka handphone yang berisi sms kunci jawaban, ada juga yang sudah mencatatnya di kertas, bahkan di papan jalan. Tetapi dengan penuh percaya diri, saya mengerjakan soal tersebut sendiri walaupun soal biologi di hari pertama itu menurut saya sangat susah.

            Hari demi hari dan soal demi soal pun berlalu, setelah ujian selesai dilaksanakan saya selalu menangis karena sebenarnya banyak soal-soal yang tidak bisa saya kerjakan. Di rumah bahkan di tempat bimbel pun saya menangis, saya takut tidak lulus padahal saya sudah diterima di IPB lewat jalur PMDK. Berbeda sekali dengan teman-teman saya yang tidak mempunyai rasa takut tidak lulus karena mereka menjawab soal-soal berdasarkan bocoran jawaban, dan menurut isu yang beredar, bocoran jawaban tersebut banyak yang benar. Mereka pun tidak pernah menyesal sama sekali atas perbuatan menconteknya.

Saya yang selalu ceria tiba-tiba selalu terlihat sedih dan murung, kadang terlintas penyesalan dalam pikiran saya, ‘kenapa ga nyontek aja ya waktu itu?pasti gw ga bakalan ketakutan ga lulus kaya sekarang ini!’ Setiap hari pikiran itu selalu terlintas rasa takut pun semakin menjadi. Namun pada saat itu, ibu saya tercinta selalu menasihati saya untuk selalu shalat,berdoa,tahajud, dan membaca Al Qur’an setelah shalat. Selama hari-hari menjelang pengumuman UN, saya pun selalu melakukan hal itu, saya selalu meminta yang terbaik pada Allah, karena hanya Allah lah yang bisa mengabulkan permintaan umatnya. Saya pun pasrah dan menyerahkan semuanya kepada Allah.

Akhirnya hari pengumuman UN pun tiba, dan Alhamdulillah saya dinyatakan ‘LULUS’ dengan nilai yang tidak mengecewakan, disitu saya sangat senang dan sangat bangga karena saya bisa lulus dengan kerja keras sendiri, dan tentunya karena Allah S.W.T yang selalu membantu saya di kala saya sedang susah. Penyesalan pun kini sudah tidak ada lagi. Ternyata kita memang harus yakin dan percaya diri atas hasil kerja keras sendiri, karena jika kita sudah dewasa nanti kita harus mandiri dan selalu bekerja keras, dan jangan lupa untuk selalu berdoa dan meminta kepada Allah S.W.T. Sekarang saya sudah resmi menjadi mahasiswi IPB, dan saya akan berusaha dengan keras sagar saya bisa sukses dan membahagiakan orang tua saya. Amin… terimakasih ya Allah atas semuanya yang telah kau berikan padaku. Mudah-mudahan pengalaman ini dapat menjadi inspirasi bagi para pembaca.

Nama               : Atrina Dwi Putri

NRP                : I34100035

Laskar              : 2

Cerita inspirasi ini berawal dari seorang keluarga mampu di kota Cirebon. Seorang ibu yang memiliki 12 anak, yaitu 6 laki-laki dan 6 perempuan, dan suami yang bekerja sebagai seorang kontraktor. Kehidupan mereka bahagia, anak-anaknya pun baik-baik. Namun, keluarga tersebut pun tiba-tiba jatuh miskin karena pada saat itu adalah masa penjajahan. Dimana ayah mereka dikejar-kejar oleh penjajah dari Belanda untuk memberikan uang kepada Belanda.

Karena keadaan yang seperti itu, keadaan keuangan keluarga mereka pun sangat menipis bahkan makan pun seadanya. Melihat kondisi yang seperti itu, anak-anak dari keluarga itu pun tidak tega, karena orangtua mereka yang sedang kesulitan uang harus membiayai sekolah ke-12 anaknya. Akhirnya mereka inisiatif untuk membayar uang sekolah mereka sendiri, bahkan mereka rela berjalan kaki ke sekolahnya yang cukup jauh. Mereka membayar uang sekolah dari keuntungan hasil berjualan pisang goreng milik tetangganya. Walaupun untungnya tidak seberapa, mereka tetap berusaha keras karena mereka ingin tetap bersekolah dan membahagiakan orang tuanya.

Hari demi hari dan tahun demi tahun pun berlalu, akhirnya keadaan keuangan keluarga tersebut cukup membaik. Tetapi karena anak-anaknya sudah terbiasa mandiri, beberapa dari mereka pun ada yang membayar uang kuliah sendiri sampai sarjana. Akhirnya sekarang semua anak-anaknya telah berhasil, ada yang menjadi pegawai negeri, swasta, dokter, sampai pengusaha. Mereka pun tidak pernah melupakan orang tuanya dan orang-orang yang pernah membantu mereka dulu.